sukutangan
book cover designer | illustrator | ravenous reader

Blog

9 Sampul Buku Terbaik Terbitan 2017

Don’t judge the book by its cover” nampaknya bukan lagi menjadi idiom yang tepat untuk menggambarkan proses seorang pembaca memilih buku yang akan ia baca. Siapapun di antara kita pasti pernah merasa tergoda dengan tampilan sebuah buku, dan lantas membawanya ke kasir tanpa perlu banyak mencari tahu isi buku tersebut. Nyatanya, sampul buku punya peran penting dalam proses penerbitan sebuah buku, yang di dalamnya meliputi penempatan obyek ilustrasi yang tepat, pemilihan font yang nyaman dibaca, hingga penggunaan warna yang sesuai dengan emosi yang ingin penulis sampaikan lewat bukunya, dan yang penting—koherensi dengan cerita. Sebagai sebuah produk komoditas, tentu saja buku dengan pewajahan yang menarik meningkatkan daya jualnya.


Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2017 ini bisa dibilang menjadi tahun yang menyenangkan bagi para pecinta buku. Beragam penerbit mayor tak henti menerbitkan buku-buku dengan desain yang rapi dan cantik, sembari penerbit-penerbit independen mencoba menyajikan kebaruan dengan menggandeng seniman-seniman muda untuk menggarap desain sampul buku-buku terbitannya. Jika di penghujung tahun akan banyak sekali yang menuliskan daftar buku terbaik di 2017 versi mereka, kami mendedikasikan tulisan ini sebagai ucapan terima kasih bagi para desainer dan seniman yang telah memanfaatkan sel-sel kelabu mereka untuk menghasilkan desain-desain sampul berkelas. 


Lantas, apa saja 9 desain sampul buku terbaik versi kami?


Melihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom, Penerbit Banana. Penata artistik: Ardi Yunanto, Fotografer: Agung ‘Abe’ Natanael
Yusi Avianto Pareanom adalah salah satu nama yang memukau banyak pembaca di tahun ini. “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi” menjadi buku favorit banyak orang, tapi mari kita bicara tentang Muslihat Musang Emas, kumpulan cerpen Yusi yang diterbitkan September lalu. Desain sampul buku ini begitu ganjil, menampilkan tiga boneka plastik berbentuk musang, rubah dan rakun yang seolah bergantian berenang di kolam kopi dengan latar warna kuning menyala dengan font judul warna putih terang—sebuah kombinasi warna yang membuat gentar kebanyakan desainer, tapi tidak Ardi Yunanto. Warna kuning ini seolah memberi peringatan, tanda berhati-hati, agar pembaca siap lahir-batin dengan imajinasi liar Yusi.

IMG_2278.jpg
IMG_2279.jpg


Makrame – Dias Novita Wuri, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Desain sampul: Leopold Adi Suryawan
Cerita-cerita tentang hubungan manusia dan segala intriknya memang tak akan pernah selesai dibahas dalam karya fiksi. Dias Novita Wuri mengibaratkan jalinan relasi manusia dengan manusia yang lain sebagai makrame, sebuah keterampilan tangan berupa jalinan benang dan tali yang biasanya dijadikan bagian dekorasi rumah. Konsep makrame ini diolah oleh Leopold Adi Suryawan dalam desain sampul yang sederhana dan terkesan bersih. Namun, jika Anda berkesempatan untuk memegang buku ini, Anda akan merasakan pola-pola makrame yang menonjol di bagian bawah sampul—sesuai dengan kata-kata di sinopsis, “Benang-benang tak terlihat yang simpang-siur di sekitar Anda—dapatkah Anda melihatnya?” Begitu cerdas, begitu membekas.

IMG_2282.jpg


We Are Nowhere and It’s Wow – Mikael Johani, Penerbit POST Press, Desainer sampul: Syarafina Vidyadana.
Desain sampul untuk buku kumpulan puisi berbahasa Inggris ini adalah contoh nyata bahwa penggunaan warna minimal dan tipografi sederhana bisa memberikan produk desain yang efektif. Syarafina dengan cerdas memanfaatkan judul buku yang cukup panjang untuk menjadi fokus, tanpa menggunakan ilustrasi atau gimmick tak perlu yang malah akan mengambil alih perhatian calon pembaca. Pemanfaatan tiga warna—biru, ungu dan oranye—yang sama kuat terkesan nabrak dan asal-asalan, membuat saya tergerak untuk membaca buku ini dan mencari tahu mengapa hanya kata “nowhere” yang dibubuhi warna ungu. And believe me, this book is wow.

IMG_2283.jpg


Familiar Messes – Gratiagusti Chananya Rompas, Penerbit KPG – Comma Books, Desain sampul: Aditya Putra, Ilustrasi: Nurul Utami Putri
Jika kebanyakan sampul buku memanfaatkan foto atau gambar sebagai ilustrasi, buku kumpulan esai terbaru milik Anya memanfaatkan pola rajutan. Hasilnya tak hanya cantik, namun juga menjadi pernyataan lantang bahwa produk seni apapun bisa dimanfaatkan sebagai elemen desain, asalkan dieksekusi dengan tepat. Warna-warna hasil rajutan Nurul Utami Putri begitu kuat dan kontras satu sama lain, namun juga menekankan gestur yang lembut. Saya adalah pembaca yang sangat senang mendapati detil-detil khusus dalam sampul buku yang sedang saya baca ternyata punya konteks yang bisa saya pecahkan dalam buku—dan bagaimana Anya dalam salah satu esainya menuliskan betapa tertariknya ia memerhatikan asap rokok yang ia hembuskan membumbung tinggi di udara, membuat saya menutup buku ini dengan perasaan puas, seperti usai menyelesaikan sebuah teka-teki. 


Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965, Penerbit Marjin Kiri, Desain sampul: Tinta Creative Production
Pertama kali melihat sampul buku ini, saya tertegun saking kagumnya. Memakai komposisi menyerupai artikel koran terbitan tahun 50-an, desain sampul ini menyajikan dengan gamblang Njoto sebagai sosok yang sangat akrab dengan dunia jurnalistik, aktif menulis untuk berbagai media pada zamannya. Penggunaan font dan warna yang tepat sasaran, menegaskan bahwa buku biografi terbitan Marjin Kiri berbeda dengan buku biografi lain yang kebanyakan menggunakan ilustrasi wajah tokoh yang agak terkesan kartun sebagai obyek visual utama.

Fadrik-Aziz-Firdausi-Njoto-sampul-buku.jpg
IMG_2285.jpg


I Believe In A Thing Called Love – Maureen Goo, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Desain dan ilustrasi sampul: Dinan Hadyan
Bagi saya, mendesain sampul sebuah buku remaja adalah pekerjaan yang sulit. Tapi, Dinan Hadyan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan hasil yang gemilang. Buku yang menceritakan seorang perempuan yang mempelajari tahap-tahap mendapatkan cinta lewat drama-drama Korea yang ia tonton, dikemas dengan lugas oleh Dinan Hadyan lewat ilustrasi cat air yang sangat dreamy. Ilustrasi ini seolah menceritakan manisnya cinta pertama dan perasaan penuh harapan seorang remaja, membuat saya enggan meninggalkan toko buku tanpa memasukkan buku ini ke tas belanja saya.  

IMG_2286.jpg


24 Jam Bersama Gaspar, Penerbit Mojok , Desain sampul: Kupi Arif, Ilustrasi sampul: Radityo Wicaksono
Membicarakan buku terbitan 2017, tak akan lengkap rasanya tanpa menyebut 24 Jam Bersama Gaspar. Sekilas, sampul buku ini mengingatkan saya pada film Drive—Ryan Gosling jadi cowok misterius yang kerjaannya cuma nyetir tanpa banyak bicara, macam supir taksi online idaman kita semua—dengan warna-warna mencolok dan ilustrasi pada bagian belakang jaket si tokoh. Chip Kidd, seorang desainer sampul kenamaan dunia, pernah menyebut trik desain ini sebagai visual vernacular, sebuah upaya merekonstruksi ulang elemen visual yang lekat dengan pikiran dan menggunakannya untuk hal lain agar menimbulkan perasaan yang serupa. Sama seperti perasaan saya setelah menonton Drive, saya membaca Gaspar dengan kesadaran penuh bahwa saya akan membaca cerita kejahatan yang tak biasa—di mana saya harus mengenyahkan persepsi yang nyaman bagi saya tentang kejahatan dan kebaikan—dan sungguh, saya tidak kecewa.

IMG_2281.jpg


Imaginary City – Rain Chudori, Penerbit KPG, Desain sampul: Aditya Putra, Fotografer: Nadia Rompas
Rain Chudori selalu mahir menulis tentang perasaan manusia, kenangan pahit-manis yang sulit enyah dari pikiran, dan hal-hal kecil yang mendiami dunia sekitar kita. Lewat Imaginary City, Rain membongkar persepsi kita tentang Jakarta—sebuah kota yang ramai dan bising, menjadi sebuah monumen bagi seorang perempuan dan laki-laki menanggalkan keindahan dan kebrutalan mereka masing-masing. Desain sampul ini tak banyak berbicara, memakai border putih tipis dan font bersahaja, karena ia tahu jelas apa perannya—sebagai perantara, sebagai pengantar, sebagai seorang guide. Foto kursi rotan yang terlihat usang dan es krim di atas meja yang seolah tak sempat tersentuh, diambil oleh Nadia Rompas untuk menyajikan sisi lain kota Jakarta yang tak pernah habis dipetakan.

IMG_2288.jpg


Kumpulan Cerita Rakyat Jepang, Penerbit Kakatua, Desain sampul: Gita Kharisma
Desain sampul buku ini menunjukkan pada saya bahwa terkadang, memanfaatkan sesuatu yang klasik adalah pilihan yang tepat. Sesuai judulnya, buku ini adalah, well, kumpulan cerita rakyat Jepang—dan Gita Kharisma sangat cerdik memanfaatkan The Great Wave off Kanagawa, sebuah lukisan woodblock karya seniman ukiyo-e Hokusai, yang elemen visualnya sudah tak asing lagi di mata publik. Hasilnya tak hanya representatif dan tak banyak basa-basi, tapi juga tak lekang oleh waktu.